Opini

PENGABDIAN ITU BERNAMA PRAMUKA

Ditulis oleh Kak Azelin Kontributor Pusinfo Kwartir Cabang Sidoarjo

Hidup adalah pemberian, kenapa kemudian kita menjadi pelit dan tidak mau memberi?. Sepenggal percakapan menjadikan sebuah dasar kenapa harus membuka kembali ujung hati yang tertutup oleh kebutuhan. Tidak munafik bahwa kemudian kita menjadi perhitungan karena kebutuhan yang semakin menjadi, namun marilah kita menjadikan ini semua sebagai pembuka ketulusan dan kembali murni.

Manusia memiliki berbagai tempat untuk mengabdi, dengan caranya masing-masing. Ada yang mengabdikan diri menjadi hamba Allah yang ngawulo, ada yang menjadi pendeta, biksu dan biara/biarawati, ada pula yang mengabdi sebagai relawan dalam berbagai bidang. Relawan kemanusiaan, relawan guru, relawan social, dan relawan kebencanaan antara lain adalah ragam pengabdian kerelawanann. Semuanya memiliki dasar dan muatan masing-masing dalam melaksanakannya.

Begitu juga dalam Kepramukaan. Kita sebagai pembina dan pelatih, kini sedang membawa misi kerelawanan, yaitu mengabdikan diri dalam memberikan Pendidikan di bidang kepramukaan untuk bisa mencapai golnya. Gerakan Pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, berkecakapan hidup, sehat jasmani, dan rohani.

Selain itu, menjadikan sebagai warga negara yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menjadi masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan (AD/ART GP 2018).

Selama mengikuti Kursus Pembina Mahir Tingkat Dasar (KMD) dan Kursus Pembina Mahir Tingkat Lanjut (KML), pembina telah mendapatkan berbagai materi yang bermutu untuk bisa digunakan sebagai bekal membina adik-adik anggota Pramuka.  Dengan bekal kemantapan akan Prinsip dasar Kepramukaan (PDK) dan Metode Kepramukaan (MK), akan menjadi alat yang baik dalam mewujudkan cita-cita bangsa membangun manusia seutuhnya. Maka kemudian, hal itulah juga yang  dipakai untuk mengabdikan diri.

Disini, sebenarnya kita semua sedang mengabdi. Mengabdi dengan menyedekahkan ilmu kita, waktu, pemikiran dan tenaga kita seperti halnya orang-orang lain memberikan pengabdian dengan menolong di daerah bencana atau membantu fakir miskin dan anak yatim. Hanya versinya berbeda saja. Bahkan disini kita adalah bagian dari pejuang karakter bangsa.

Fenomena honor Pembina yang jauh dari ekspektasi menjadikan polemik sulitnya mencari pembina dan penerapan ilmu kepramukaan di sekolah menjadi kurang maksimal karena pembina menjadi kewalahan. Berganti-ganti pembina karena tidak bisa mengikat dengan honor yang cukup pun menjadi dinamika sekolah. Apa boleh buat, sekolah mengalokasikan dana yang ‘hanya’ bisa ditukar dengan uang bensin saja padahal amanah membina sampai lebih dari satu perindukan/pasukan/ambalan dan seterusnya.

Tragis? Seharusnya tidak, jika kita bisa menyikapinya dengan baik dan mengembalikan kebermanfaatan diri kita bagi masyarakat utamanya pembentukan karakter generasi muda yang nantinya akan memegang tongkat estafet keberhasilan suatu bangsa. Bekal lain yang bisa kita jadikan penguat adalah bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi masyarakat (HR Ahmad).

Kakak-kakak sekalian, disinilah tempat kita berjuang, mengabdi dan menjadi perwira-perwira yang menjaga negara ini dengan menjaga keselamatn moral dan karakter generasinya. Bayangkan jika kita tidak berada di garis depan itu untuk menjaga adik-adik kita dari pengaruh perkembangan budaya yang semakin meraja lela, apa jadinya mereka? Mereka akan melakukan aktifitas yang tak terarah, terjerumus pada pola kehidupan yang negatit dan merugikan.

Dengan menggunakan 8 metode kepramukaan, penerapan sistem among, membekali mereka dengan kode kehormatan dan mengisi iraman belajar mereka dengan permainan-permainan yang mengasah skill dan menantang, sesungguhnya, kita telah menyelamatkan asset negara yang sangat berharga.

Pramuka adalah tempat kita mengabdi, dan pengabdian itu akan menjadi sedekah terbaik kita dalam membekali para patriot bangsa ini. Juga, sedekah ini adalah sedekah yang tiada akhir. Sampai kapanpun adik-adik kita menggunakan ilmu dan keterampilan yang kita beri, insyaallah pahalanya terus mengalir. Ketika mereka menjadi pemimpin, dan menerapkan ilmu Kepramukaan dalam kepemimpinan mereka, saat itu juga kita telah menjadi bagian dari kesuksesan pemimpin itu.

Mari kita teguhkan hati menjadikan pramuka sebagai sarana pengabdian diri kita. Sebagai ungkapan rasa syukur kita sebagai seorang Pramuka. Jangan lelah menjadi pembina, karena ada tangan-tangan generasi yang menantikan kita untuk menjaganya. Barangkali salah satu tangan itulah nanti yang akanmenarik kita untuk ke syurga. Iklhas Bakti Bina Bangsa, Ber Budi Bawa Laksana (Kontributor-Kak Azelin)

Anda mungkin juga suka...

1 Komentar

  1. Arifianto menulis:

    Salam Pramuka
    4 paragraf terakhir tulisan kakak, membuat saya semangat untuk beribadah/mengabdi lebih banyak, lebih ikhlas dan membuat saya terharu dan tak terasa membuat saya menitikkan air mata.
    Salam Pramuka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.