SERAGAM BISA LUSUH, NAMUN JIWA TETAP TEGUH

Pramuka dan Kiprahnya Membangun Masyarakat

Oleh : Kak Irfandi-413 – Tim Pusinfo Kwarcab Sidoarjo

Saat kita berseragam pramuka dan melakukan penjelajahan di kampung yang dekat dengan masyarakat terkadang ada saja masyarakat yang usil dan menggoda dengan teriakan “tepuk pramuka!”. Selanjutnya diiringi dengan gelak tawa dalam perkumpulan itu. Setidaknya itulah pengalaman pribadi kami ketika masih dalam pendidikan kepramukaan di satuan. Kadang masyarakat memang memandang Gerakan Pramuka sebagai gerakan tepuk tangan dan bernyanyi. Memang pada dasarnya setiap pramuka harus selalu gembira, salah satunya dengan strategi bertepuk, bergerak, dan berdendang. Namun pada akhirnya itulah yang menjadi branding Gerakan Pramuka di masyarakat. Pramuka dianggap sebagai perkumpulan tepuk tangan dan nyanyi-nyanyi.

Apakah Pramuka dapat dipandang lebih dari itu di masyarakat? Tentu saja bisa. Jika kita lihat janji kita pada Tri Satya ada satu kalimat yang sangat sakral yaitu “ikut serta membangun masyarakat”. Pertanyaannya apakah setiap pramuka mampu menepati janji tersebut? Bentuk – bentuk pembangunan masyarakat yang dilakukan oleh para pramuka memang sangat beragam. Seberapa tingkat pengabdian dan pengorbanan seorang pramuka bagi bangsa masyarakatnya memang tidak pernah dinilai dan diperlombakan, namun hal ini menjadi penting untuk terus menjadi kesadaran yang ditumbuhkan.

Setiap kegiatan yang berorientasi pada masyarakat seperti perkemahan wirakarya ataupun bakti sosial, seyogyanya hanya pembelajaran sekilas lewat saja. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk pembelajaran pramuka terhadap upaya pengabdiannya di masyarakat kelak. Paling lama seminggu atau sebulan kegiatan tersebut berjalan, lalu seorang pramuka akan mengalami banyak lagi kegiatan – kegiatan lain. Sedangkan pembangunan masyarakat itu perlu upaya konsisten, sistematis, terencana, tahan banting, dan waktu yang panjang. Perubahan sosial bukan hanya upaya seminggu dua minggu yang diusahakan secara seremonial saja.

Maka penting kiranya mempersiapkan para penegak dan pandega secara terencana dan sistematis untuk keluar dari satuan dan hidup seutuhnya di masyarakat. Ketika hidup di masyarakat ia bukan hanya hidup memenuhi kebutuhan keluarga saja. Seorang pramuka atas dasar Tri Satya berkewajiban membangun masyarakatnya hingga akhir hayatnya. Layaknya Wirakarya seumur hidup, harus dilakukan seorang pramuka. Tri Satya itu melekat hingga akhir hayat, bukan hanya saat berseragam pramuka saja. Pramuka itu jiwa yang mengkristal dalam diri, bukan hanya tempelan atribut yang bisa digonta-ganti tiap periode.

Dalam Buku Empowering Young Adult terbitan WOSM, menjelaskan bahwa tolok ukur keberhasilan pembinaan penegak pandega adalah dilihat dari berapa banyaknya anggota yang keluar dari satuan dan terjun membangun masyarakatnya. Keberhasilan pembinaan bukan diliat dari banyaknya atribut yang tertempel, akreditasi gudep, ataupun banyaknya piala lomba tingkat. Jika dalam satuan, kegiatan bakti sosial adalah pembelajaran dan persiapan, maka setelah keluar dari satuan dan lewat usia pembinaan peserta didik, seorang pramuka mulai membangun masyarakat secara nyata.

Membangun masyarakat itu banyak jalannya, membuat perubahan, mencari terobosan, menemukan jalan keluar atas berbagai permasalahan di masyarakat, dan sebagainya. Memberdayakan masyarakat berarti membuat satu kelompok yang awalnya tak memiliki daya tertentu, hingga akhirnya memiliki daya tertentu. Pilihan menjadi pemimpin masyarakat atau pelopor perubahan masyarakat adalah pilihan cara pembuktian latihan-latihan kita saat di satuan telah berhasil. Hingga saat ditanya orang tentang apa background pendidikan kita, kita bisa menjawab dengan bangga bahwa kita berpendidikan kepramukaan.

Rekomendasi untuk Gerakan Pramuka adalah menciptakan kurikulum pendidikan kepramukaan yang membentuk para pemimpin dan pelopor perubahan di masyarakat. Belum banyak kurikulum pendidikan kepramukaan atau syarat-syarat kecakapan yang menuntut pramuka jadi pelopor. Setidaknya ilmu-ilmu bermasyarakat, sosiologi, antropologi, kebudayaan, kepemimpinan masyarakat, politik, kepemudaan, dan lain sebagainya terus diberikan bersama praktik-praktik baik pembangunan masyarakat yang dilakukan kakak-kakak terdahulu.

Salah seorang Pembina pramuka senior mengatakan bahwa, “ketika kamu sudah hidup di masyarakat dan menjadi pelopor perubahan, itulah namanya pramuka. Kalau yang masih berseragam pramuka itu namanya latihan pramuka”. Jadi sebenarnya kepramukaan itu bukan hanya kebanggaan-kebanggaan berseragam dan beratribut saja, melainkan kebanggaan atas hasil pendidikan karakter yang telah membentuk watak dan jiwa. Saat kita melepas seragam, orang tahunya kita adalah masyarakat biasa namun berjiwa pramuka sejati. Seragam bisa lusuh, namun jiwa tetap teguh. 

Bayangkan jika masyarakat akhirnya selalu berharap pada lulusan pendidikan kepramukaan dalam mengatasi segala permasalahan sosial. Sehingga sudah tidak ada lagi perundungan, umpatan, candaan, yang memandang pramuka sebagai hal yang remeh. Sebuah pemutakhiran nilai-nilai dan citra Gerakan Pramuka ke depan. Masalah di dunia akan terus tercipta, Pramuka mau ambil peran di mana? (Pusinfo-Irfandi413)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.