Dari Api Unggun hingga Jejak Ambalan: KPDA SMK Telkom Sidoarjo Penuh Makna dan Tantangan
Pramuka Delta — Pangkalan SMK Telkom Sidoarjo sukses menyelenggarakan kegiatan Kursus Pengelolaan Dewan Ambalan (KPDA) Sasongko–Lukitaningsih pada Sabtu–Minggu, 11–12 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini bertempat di lingkungan sekolah dan diikuti oleh anggota Pramuka Penegak dengan penuh antusiasme.

KPDA merupakan program pembinaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan, manajerial, serta pemahaman peserta dalam mengelola Dewan Ambalan. Berbagai materi disajikan secara komprehensif, mulai dari packing pribadi dan kelompok, pengenalan tapak kemah dan tenda, hingga presentasi administrasi serta perencanaan kegiatan. Selai n itu, peserta juga mendapatkan materi tentang kepemimpinan, Dewan Ambalan dan Pramuka Garuda, serta mengikuti kegiatan penguatan karakter seperti renungan, senam pagi, masak rimba, dan sharing session.
Kegiatan dibuka secara resmi melalui upacara pembukaan yang dipimpin oleh Kak Rachel Apriliyani, S.Sos selaku Pembina Gugus Depan. Dalam amanatnya, beliau menekankan pentingnya peran Dewan Ambalan sebagai motor penggerak kegiatan kepramukaan di tingkat pangkalan.

Suasana keakraban semakin terasa pada malam hari melalui kegiatan Api Unggun dan Malam Keakraban. Salah satu momen yang paling berkesan adalah prosesi menyalakan lilin bersama dari satu sumber api yang disalurkan secara berantai. Dalam suasana hening dan penuh makna, peserta menyampaikan kesan, pesan, serta harapan bagi diri sendiri maupun bagi Ambalan ke depan.
Kegiatan unik lainnya tersaji dalam Jejak Ambalan, di mana peserta ditantang untuk menghafalkan sekaligus memaknai sandi Ambalan. Dalam pelaksanaannya, setiap kelompok harus bekerja sama dengan satu pemimpin yang dapat melihat, sementara anggota lainnya dalam kondisi mata tertutup. Mereka harus menyelesaikan misi untuk menemukan badge Ambalan setelah berhasil memahami sandi yang diberikan. Kegiatan ini tidak hanya mengasah daya ingat, tetapi juga memperkuat kerja sama tim dan kepercayaan antaranggota.

Pada pagi harinya, peserta mengikuti kegiatan masak rimba yang menguji kreativitas dan kemandirian. Dengan bahan dan alat yang telah disiapkan, peserta diwajibkan memasak sarapan secara mandiri. Uniknya, hasil masakan tetap harus dikonsumsi bersama setelah melalui proses penilaian oleh panitia, terlepas dari tingkat kematangan maupun rasa.
Menariknya, pada KPDA tahun ini juga diterapkan perubahan nama adat yang digunakan oleh panitia dan peserta. Jika sebelumnya mengusung tema alat perkakas, kali ini nama adat mengangkat tema alam semesta sesuai hasil musyawarah Ambalan. Jika pada tahun sebelumnya nama adat yang digunakan mengusung tema alat perkakas yang merepresentasikan fungsi, ketepatan, dan peran teknis dalam sebuah tim, maka pada tahun ini terjadi pergeseran tema menjadi alam semesta. Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan hasil dari musyawarah Ambalan yang mencerminkan arah baru dalam membangun karakter dan identitas anggota.
Tema alam semesta dipilih karena dinilai memiliki makna yang lebih luas dan filosofis. Setiap peserta dan panitia diibaratkan sebagai bagian dari semesta yang saling terhubung, memiliki peran unik, serta saling melengkapi satu sama lain. Layaknya matahari yang memberi energi, bulan yang menenangkan, atau bintang yang menjadi penunjuk arah, setiap individu diharapkan mampu menemukan jati diri sekaligus memberi kontribusi positif bagi Ambalan.

Selain itu, konsep alam semesta juga menanamkan nilai keseimbangan dan harmoni. Peserta diajak untuk memahami bahwa kepemimpinan tidak hanya soal mengatur dan mengarahkan, tetapi juga tentang menjaga keselarasan, menghargai perbedaan, dan membangun kebersamaan. Filosofi ini sejalan dengan semangat kepramukaan yang menjunjung tinggi persaudaraan, gotong royong, dan tanggung jawab.
Dengan mengusung tema alam semesta, diharapkan setiap anggota Ambalan tidak hanya berkembang secara individu, tetapi juga mampu berkolaborasi dalam menciptakan “konstelasi” yang kuat. Perubahan ini menjadi simbol transformasi Ambalan Sasongko–Lukitaningsih menuju organisasi yang lebih dinamis, reflektif, dan berorientasi pada nilai-nilai kebersamaan yang lebih mendalam. Hal ini menambah warna tersendiri dalam dinamika kegiatan.

Sebagai penutup, kegiatan ini juga menjadi momen penting dalam regenerasi kepemimpinan Dewan Ambalan. Tongkat estafet kepengurusan yang sebelumnya dipegang oleh Kak Rey dan Kak Eliza kini resmi diserahkan kepada pengurus baru dengan Pradana Kak Hoshi dan Kak Eliza. Diharapkan, kepengurusan yang baru dapat membawa Ambalan Sasongko–Lukitaningsih menjadi lebih aktif, kreatif, dan berprestasi.
Melalui kegiatan KPDA ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga pengalaman berharga yang membentuk karakter, kebersamaan, serta jiwa kepemimpinan sebagai Pramuka Penegak yang tangguh dan berintegritas.[JP-Red]
![]() | Kontributor Kegiatan : Acho & Azizah– Pembina Satuan SMK Telkom Sidoarjo; |
![]() | Pewarta : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS – Kapusinfo Kwarcab Sidoarjo; |
Share this content:




















