Cangkrukan Gugus Darma Jenggala, Kunjungi Situs Budaya

Pusinfo – Gugus Darma Pramuka merupakan satuan organisasi bagi anggota dewasa Gerakan Pramuka sebagai wadah pengabdian untuk memajukan Gerakan Pramuka. Anggota gugus darma pramuka adalah anggota Gerakan Pramuka yang berusia di atas 25 tahun yang tidak menjabat sebagai pengurus organisasi dan tenaga pendidik.

Gugus Darma Jenggala Kwartir Cabang Sidoarjo menyelenggarakan kegiatan Cangkruan bersama 22 anggotanya dengan melakukan kegiatan kunjungan Situs Sejarah Sidoarjo di Candi Pari, sembari ikut memperingati dan mengenang hari Baden Powell dan Hari Tunas, Senin 06/03/2023.

Kegiatan ini dipandu langsung oleh Kak Soekarno selaku pengurus Gugus Darma Jenggala yang juga seorang budayawan Sidoarjo dengan buku karyanya yang berjudul Mencari Jejak Kerajaan Jenggala. dalam kesempatan kali ini, beliau menyampaikan bahwa Candi merupakan tempat beribadah orang-orang Hindu atau Budha, dimana penamaan Pari itu sendiri merupakan nama desa dan dahulu kaya raya karena hasil sawahnya yang berupa padi melimpah ruah yang akhirnya dipasok untuk bahan pangan kerajaan Majapahit. Tentunya kita sebagai masyarakat pramuka wajib tahu akan sejarah tersebut sebagai identitas bangsa yang besar, jelas beliau dalam kegiatan kali ini.

Lain halnya dengan apa yang disampaikan oleh Kakak Waka Binawasa kak DR. Abdul Munif, MM bahwa warisan dari Baden Powel adalah hidup sehat, bahagia, suka belaja di alam terbuka. Begitu juga apa yang menjadi tinggalan Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah suka berkemah, rela berjuang dan menerapkan sistem among.

Dalam kegiatan kali ini juga dilaksanakan Rapat Kerja internal Gugus Darma Jenggala 22 untuk 2023 yang menghasilkan kesepakatan diantaranya sebagai berikut :
a. Kunjungan rutin situs sejarah dan budaya.
b. Halal Bihalal tahun 1444 H/2023 M dan kunjungan di situs Makam Ulama Sono Sidokerto Buduran.
c. Kunjungan ke Desa Pramuka, tempat PW ASPAC Lebakharjo Malang paska hari raya Idul Fitri.
d. Siap mendampingi kegiatan kwarcab yg berjenis bakti kepada masyarakat

Baca Juga  Pelantikan Pengurus Kwarran Sukodono Disuguhi Tampilan Tarian Seser Rajungan

Perlu kita ketahui bersama, bahwa Candi Pari adalah sebuah peninggalan masa klasik Indonesia yang terletak di Desa Candipari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Lokasinya sekitar 2 km ke arah barat laut dari pusat semburan Lumpur Lapindo. Menurut batu yang tertulis di atas gerbang, candi ini dibangun pada tahun 1293 Saka (1371 Masehi). Batu ini merupakan peninggalan zaman Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389 M).

Candi ini ditemukan pada tanggal 16 Oktober 1906 oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Candi ini dipugar pada tahun 1994-1996 oleh Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan SPSB Jawa Timur. Candi ini merupakan suatu bangunan persegi empat yang terbuat dari batu bata, menghadap ke barat dengan ambang serta tutup gerbang dari batu andesit. Bentuk atapnya serupa dengan atap candi-candi di Kerajaan Khmer (sekarang Kamboja) dan Kerajaan Champa (sekarang Vietnam).

Menurut laporan J. Knebel dalam Rapporten Van De Comissie In Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek Op Java en Madoera tahun 1905-1906,[2] Candi Pari dan Candi Sumur dibangun untuk mengenang tempat hilangnya seorang sahabat/adik angkat dari salah satu putra Prabu Brawijaya dan istrinya yang menolak tinggal di keraton Majapahit di kala itu. (Red)

Kontributor & dokumentasi kegiatan oleh : Kak DR. Abdul Munif, MM (Waka Binawasa Kwarcab Sidoarjo);

Data dan informasi tentang Candi Pari diolah dari berbagai sumber;

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *