Pramuka Delta – Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: sebenarnya, saya ini pembina Pramuka yang seperti apa? Pertanyaan sederhana, namun sering kali terlewatkan di tengah hiruk-pikuk latihan, kegiatan, dan tuntutan administrasi yang tak ada habisnya.
Dari hasil perenungan dan pengamatan lapangan selama lebih dari dua setengah dekade membina Pramuka, saya menemukan satu realitas penting: pembina Pramuka tidak pernah berada pada titik yang sama. Mereka berjalan pada fase kehidupan yang berbeda, dengan tantangan dan cara memaknai pengabdian yang juga tidak seragam.
Totalitas yang Melelahkan
Ada pembina yang saya sebut sebagai pembina “nyel”. Mereka total, sepenuh hati, bahkan nyaris menyerahkan seluruh hidupnya untuk Pramuka. Gugus depan hidup, kegiatan berjalan, peserta didik berprestasi. Namun di balik itu, sering kali tersimpan kelelahan yang tak terucap—terutama ketika pengabdian belum sejalan dengan kesejahteraan hidup.
“Totalitas tanpa keseimbangan, pada titik tertentu, bisa berubah menjadi beban. Bukan karena cintanya luntur, tetapi karena tubuh dan kehidupan pribadi ikut terabaikan”.
Keseimbangan yang Menjaga Nyala Api
Di sisi lain, ada pembina “nyambi”. Mereka membina dengan sadar, terukur, dan realistis. Pramuka menjadi ruang aktualisasi nilai, bukan satu-satunya sandaran hidup. Ada pekerjaan utama, ada usaha, ada keluarga yang tetap terurus.
“Tantangannya adalah menjaga agar Pramuka tidak sekadar menjadi aktivitas sambilan. Sebab nilai kepramukaan menuntut konsistensi hati, bukan sekadar kehadiran fisik”.
Pengabdian yang Menjadi Teladan
Yang paling langka adalah pembina “ngabdi”. Mereka telah selesai dengan urusan ekonomi dan karier, lalu memilih Pramuka sebagai jalan pengabdian. Tidak berbicara honor, tidak mengejar jabatan. Yang mereka bawa ke gugus depan adalah keteladanan hidup.
“Peserta didik tidak hanya mendengar teori, tetapi melihat bukti. Bahwa nilai Satya dan Darma Pramuka memang bisa diwujudkan dalam kehidupan nyata”.
Bukan Soal Label, Tapi Kesadaran
Tulisan ini bukan untuk memberi cap, apalagi menghakimi. Ini adalah cermin. Karena pada hakikatnya, setiap pembina pernah berada di satu fase, dan sedang bergerak menuju fase berikutnya.
Idealnya, kita memulai dari semangat totalitas, bertumbuh dalam keseimbangan, lalu matang dalam pengabdian. Tidak semua harus tiba di titik yang sama, tetapi setiap pembina perlu sadar sedang berjalan ke arah mana.
Refleksi Penutup
Gerakan Pramuka tidak akan kuat hanya oleh program dan seragam. Ia hidup karena manusia-manusia yang menyalakan nilai melalui keteladanan. Maka pertanyaannya bukan lagi “saya sudah berbuat apa untuk Pramuka?”, melainkan:
“Apakah hidup saya sendiri sudah menjadi pelajaran bagi Pramuka?”
Karena sejatinya, Pramuka tidak diwariskan lewat teriakan di lapangan, tetapi ditularkan lewat cara kita menjalani kehidupan.[Red]
![]() | Tentang Penulis : Uays Hasyim, SE., MM., CT.HLC., CPS., CSE – (Kepala Pusat Informasi Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Sidoarjo, Purna Sekretaris Umum DKC Sidoarjo 1997 – 2000, Purna Ketua DKC Sidoarjo 2000 – 2002, Wartawan Pelajar (Kropel) Surabaya Post – 1997, Direktur HOLISTIQ Training 2007 – Sekarang; |
Share this content:
